TANGISANMU ADALAH TANGISANKU JUGA.... FRIEND!!!
Yayasan Yudistira selaku pemerhati satwa menyesalkan tindakan pemerintah di Bali yang telah membantai ribuan ekor anjing terkait dengan merebaknya virus rabies di daerah itu.
"Kami menyesalkan adanya eliminasi secara massal atas satwa yang banyak berkeliaran di masyarakat Pulau Dewata," kata Manager Operasional Yayasan Yudistira, Wayan Mudiarta di Denpasar, Jumat (24/4).
Menurut dia, pemerintah seharusnya tidak melakukan eliminasi secara massal, melainkan cukup dengan langkah-langkah yang selektif. "Ini artinya, tidak semua anjing harus dibantai massal terkait denganupaya memberantas penyebaran virus rabies," katanya.
Ia menyarankan, proses eliminasi seharusnya hanya dilakukan terhadap anjing yang secara klinis menunjukkan gejala rabies. Sementara untuk anjing-anjing yang belum terjangkit, cukup hanya dengan tindakan vaksinasi.
Yayasan Yudistira juga menyesalkan langkah eliminasi yang dilakukan jajaran Pemprov Bali yang dinilainya sangat menyiksa binatang. Eliminasi dengan penebar racun hingga anjing kemudian harus sekarat DAN meregang sebelum melepas nyawa, itu sangat menyiksa binatang.
"Boleh saja dilakukan eliminasi atas hewan yang terjangkit virus, namun tentu dengan cara yang seminimal mungkin menimbulkan penderitaan," kata Mudiarta. Ia menambahkan, memang sesuatu yang ideal saat ini sulit untuk dilakukan pemerintah.
Sehubungan dengan itu, lembaga pemerhati satwa yang cukup banyak berkiprah di Pulau Dawata itu mendesak pemerintah di Bali untuk menghentikan aksi eliminasi anjing secara massal.
Sementara, berdasarkan data pada Dinas Peternakan Bali terungkap bahwa sejak kasus rabies muncul di Kabupaten Badung pada September 2008, hingga kini sekitar 2.500 anjing telah dieliminasi.
Untuk anjing liar yang telah dilakukan vaksinasi, diketahui sekitar 40 ribu ekor tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Bali.
Sementara itu, seorang aktivis LSM pencinta satwa mengemukakan bahwa masyarakat internasional saat ini sudah mengkritisi kebijakan pemerintah di Bali dalam mengantisipasi penyebaran rabies dengan cara membunuh anjing-anjing liar.
"Banyak pendanaan dari komunitas internasional di luar negeri yang akan berhenti. Mereka tidak akan memberikan bantuan, jika eliminasi itu terus dilakukan," kata pimpinan Asosiasi Kesejahteraan Satwa Bali (BAWA) Janice Giraldi kepada wartawan di Denpasar, Selasa (3/11).
Sementara Elly Hiby, ahli rabies yang juga aktivis program pendampingan satwa di bawah organisasi Masyarakat Dunia untuk Perlindungan Satwa (WSPA), juga mengungkapkan bahwa masyarakat pencinta satwa di luar negeri sangat prihatin dengan kondisi di Bali. "Sebetulnya Australia melalui program AusAid mau membantu program vaksinasi rabies untuk anjing di Bali. Ini masih wacana, tapi mereka mempersyaratkan, tidak boleh ada eliminasi seperti sekarang," katanya.
Ia mengemukakan, masyarakat internasional sangat merekomendasi untuk pemberantasan penyakit rabies ini adalah dengan vaksinasi pada anjing. Program itu merupakan langkah yang memegang prinsip kesejahteraan satwa.
Janice melanjutkan, dirinya sangat memahami langkah yang diambil oleh pemerintah daerah di Bali saat ini, dengan membunuh anjing. Demikian juga yang dilakukan masyarakat yang ikut membunuh anjing mereka secara swadaya dengan menggunakan racun.
Namun, katanya, ada baiknya pemerintah melihat alternatif lain, selain membunuh, yakni dengan vaksinasi. Dari sisi tenaga dan biaya, vaksinasi itu jauh lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan langkah membunuh anjing.
Hal itu juga dibuktikan di beberapa negara yang menerapkan kebijakan eliminasi, tetapi ternyata tidak justru menghilangkan penyakit rabies, seperti di Madras, India. Namun, setelah dilakukan vaksinasi, dalam dalam dua tahun terakhir, kawasan itu bersih dari rabies.
Ditanya mengenai kemungkinan pemerintah di Bali untuk membunuh 500.000 anjing, ia mengemukakan, hal itu sulit dilakukan. Kalau hal itu bisa dilakukan maka dikhawatirkan justru akan menimbulkan masalah baru, berkaitan dengan naiknya populasi tikus.
Selama ini, anjing-anjing di Bali banyak hidup dari sisa makanan dan sesajen. Kalau anjing-anjing itu habis maka dikhawatirkan justru akan memperbanyak populasi tikus yang juga memakan sisa makanan serta sesajen. "Di sebuah kawasan di India juga pernah anjing-anjing dimusnahkan, tapi kemudian populasi tikus justru naik luar biasa dan tikus itu membawa jenis penyakit baru," katanya.
Ia mengemukakan, pihaknya bersedia membantu pemerintah di Bali untuk melakukan vaksinasi, jika memang ada bantuan dana untuk itu. Menurut dia, pihaknya bisa melakukan vaksinasi terhadap 300 anjing dalam satu hari. "Kami selama ini juga sudah melakukan vaksinasi terhadap sejumlah anjing di Bali, meskipun tidak semuanya. Harga vaksin itu menurut saya jauh lebih murah daripada membeli racun untuk membunuh anjing," katanya.
Selain itu, katanya, vaksin untuk anjing juga jauh lebih murah dibandingkan dengan vaksin untuk manusia. Sesuai data di RSUP Sanglah Denpasar, vaksin untuk manusia dalam sehari dibutuhkan Rp 60 juta. Untuk satu orang, bisa menghabiskan sekitar Rp 1 juta untuk vaksin. "Bandingkan dengan jika memvaksin anjing yang harganya cuma Rp 17.000 untuk satu anjing. Kalau saja 70 persen anjing di Bali ini divaksin, maka kita akan aman dari penyakit rabies,"
Sumber: dari berbagai sumber
Posting by: Parthajus